Komisi C Kawal Penyelesaian Groundsill Srandakan, Tekankan Pengawasan Penambangan Pasir

Jogja, dprd-diy.go.id – Komisi C DPRD DIY menegaskan komitmennya mengawal penyelesaian pembangunan Groundsill Srandakan di Sungai Progo agar rampung tepat waktu sekaligus mendorong pengawasan aktivitas penambangan pasir di sekitar kawasan proyek. Dalam kunjungan kerja ke lokasi proyek, Kamis (25/06/2026), Komisi C tidak hanya memantau progres konstruksi yang telah mencapai 77,2 persen, tetapi juga menyoroti pentingnya pengawasan aktivitas penambangan pasir di sekitar kawasan proyek guna menjaga ketahanan bangunan. 

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai II Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Dicky Maulana, menjelaskan bahwa pembangunan groundsill berjalan lebih cepat dari target yang telah direncanakan. Hingga akhir Juni 2026, progres fisik telah mencapai 77,2 persen dengan sisa pekerjaan sekitar 23 persen yang ditargetkan rampung sesuai kontrak pada 31 Desember 2026.

“Progres pekerjaan saat ini sudah mencapai 77,2 persen dan masih surplus terhadap rencana. Kami optimistis pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target kontrak pada akhir tahun,” jelas Dicky.

Ia menerangkan, proyek senilai Rp213,8 miliar tersebut merupakan pekerjaan multi-year contract yang dimulai sejak 10 Oktober 2025 dengan lingkup pembangunan bangunan pengendali dasar sungai sepanjang 300 meter. Groundsill baru dibangun menggantikan bangunan lama yang mengalami kerusakan akibat degradasi dasar Sungai Progo hingga mencapai 4–5 meter, kondisi yang semakin parah setelah hujan ekstrem pada Januari 2025.

Menurut Dicky, desain bangunan baru dibuat lebih kokoh dengan pemasangan tiang pancang sedalam 12 meter sehingga mampu menahan gerusan sungai yang lebih besar. Ia juga menyebut periode Juni hingga Agustus sebagai “bulan emas” pelaksanaan pekerjaan karena kondisi musim kemarau memungkinkan percepatan konstruksi sebelum memasuki musim penghujan.

Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, menyambut positif capaian tersebut dan menegaskan pentingnya fungsi bangunan ini bagi masyarakat luas. 

Alhamdulillah senang sudah 77,2 persen terlaksana. Harapan kami, karena sungai Progo ini sangat vital untuk pengairan, untuk air bersih dan sebagainya,” ujarnya.

Selain memastikan progres pembangunan, Komisi C juga memberikan perhatian terhadap aspek keberlanjutan bangunan setelah proyek selesai. Anggota Komisi C, Aslam Ridlo, menilai kualitas konstruksi groundsill yang baru jauh lebih baik dibanding bangunan sebelumnya karena telah diperkuat dengan pondasi tiang pancang hingga kedalaman 12 meter. 

Namun, menurut Aslam, ketahanan konstruksi juga harus didukung dengan pengelolaan kawasan sungai yang baik, terutama melalui pengawasan terhadap aktivitas penambangan pasir. 

Senada dengan itu, anggota Komisi C lainnya, Lilik Syaiful Ahmad, turut mendorong agar seluruh pihak ikut menjaga keberlangsungan bangunan yang telah dibangun dengan anggaran besar ini. 

“Sama-sama menjaga sehingga nanti jembatannya aman, groundsill ini juga aman, bisa bertahan lebih dari 10 tahun. Harapan kita kalau kita sama-sama saling menjaga semuanya, ini bisa lebih dari 20 tahun ke depan,” tegasnya.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi C juga meninjau aktivitas penambangan pasir yang masih berlangsung sekitar 400–500 meter di hilir lokasi pembangunan. Aktivitas tersebut dinilai perlu diawasi agar tidak mempercepat degradasi dasar Sungai Progo maupun mengurangi umur layanan groundsill.

Groundsill Srandakan memiliki fungsi penting sebagai pengendali dasar sungai untuk menjaga stabilitas aliran Sungai Progo, melindungi jaringan irigasi pertanian, menjaga ketersediaan air baku, serta mencegah intrusi air laut ke wilayah Trimurti, Brosot, Srandakan, dan Galur. (fz/lz)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*