Pesantren dan Keraton dalam Jejak Peradaban, INSAN BPC Gelar Study Culture di DPRD DIY

Jogja, dprd-diy.go.id – Ikatan Silaturrahim Alumni Buntet Pesantren Cirebon D.I. Yogyakarta (INSAN BPC DIY) menggelar kegiatan Study Culture di DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (30/10/2026). Mengangkat tema “Berangkat dari Pesantren, Bergerak untuk Peradaban”, kegiatan ini menjadi ruang untuk menelusuri keterkaitan sejarah dan budaya Cirebon-Yogyakarta, sekaligus mengenali peran pesantren dan keraton dalam membangun peradaban bangsa.

Wakil Ketua DPRD DIY, Umaruddin Masdar, S.Ag., menyampaikan apresiasi atas inisiatif INSAN BPC DIY dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Ia berharap Study Culture dapat menjadi ruang pertukaran budaya yang memperkuat hubungan antardaerah sekaligus mendorong kontribusi masyarakat dalam pembangunan bangsa.

“Saya juga sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada INSAN BPC yang telah menginisiasi kegiatan ini. Mudah-mudahan ini menjadi pertukaran budaya yang semakin menguatkan budaya kita masing-masing, semakin menguatkan kontribusi kita terhadap daerah dan juga pembangunan bangsa,” ucap Umaruddin.

Ketua Pelaksana Study Culture, Saefurrohman Adi, menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menelusuri nilai-nilai luhur, spiritualitas, serta kearifan lokal yang berkembang di Cirebon dan Yogyakarta. Melalui pertukaran pengetahuan dan budaya, kegiatan ini diharapkan dapat membentuk karakter santri yang kritis, adaptif, berintegritas, serta siap berkontribusi dalam kehidupan masyarakat modern.

“Melalui kegiatan ini, kita ingin menelusuri nilai-nilai luhur, spiritual, serta kearifan lokal dari kedua daerah ini. Ini untuk membentuk karakter santri yang kritis dan adaptif, berintegritas, dan siap berkontribusi bagi peradaban modern,” ujar Adi.

Sementara itu, Ketua INSAN BPC DIY, M. Faiz Hildan, menekankan pentingnya melihat kembali peran historis santri sebagai bagian dari kelompok sosial dan politik yang turut membangun fondasi bangsa. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai latar belakang dan pandangan dalam membangun pemahaman bersama tentang kebangsaan.

“Kalau kita lihat secara historis, memang santri adalah salah satu kelompok sosial dan politik yang ikut membangun fondasi bangsa ini. Sehingga harapannya kita bisa sama-sama saling menghargai dari berbagai kelompok sebagai daerah untuk membicarakan satu gagasan yang sama tentang bangsa ini,” tutur Faiz.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan talk show bertema “Harmoni Dua Pusaka: Jejak Keraton dan Pesantren Cirebon Yogyakarta”. Diskusi ini menghadirkan dua pemateri, yakni Prof. Dr. H. Agus Muhammad Najib, S.Ag., M.Ag., selaku Pelindung INSAN BPC, serta Muhammad Hisyam Ahsan dari Keraton Yogyakarta.

Dalam pemaparannya, Prof. Agus menjelaskan perjalanan sejarah Cirebon yang berawal dari peran Walangsungsang atau Cakrabuana dan Nyai Rara Santang, ibunda Sunan Gunung Jati, yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi dan Nyai Subang Karang. Cirebon kemudian resmi melepaskan diri dari Pajajaran pada 1482. Dalam perjalanan sejarahnya, Cirebon juga berada di tengah dinamika politik antara Kesultanan Mataram dan Banten. Salah satu jejak hubungan historis tersebut terlihat dari dimakamkannya Sultan Cirebon, Pangeran Giriloyo (Sultan Abdul Karim), di Giriloyo, Yogyakarta.

Sementara itu, Muhammad Hisyam Ahsan memaparkan hubungan Cirebon dan Yogyakarta sebagai bagian dari kesinambungan sejarah dan spiritualitas yang mempertemukan tradisi keraton dan pesantren. Keduanya memiliki warisan budaya yang berkembang melalui perpaduan nilai-nilai Islam dan kearifan lokal.

Cirebon, dengan Sunan Gunung Jati sebagai salah satu tokoh sentralnya, mewariskan berbagai pusaka budaya, seperti tradisi Panjang Jimat, ornamen batik yang sarat makna simbolis, pertunjukan wayang kulit dengan lakon tauhid, hingga tata ruang keraton yang memiliki keterkaitan dengan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Melalui kegiatan Study Culture ini, pertemuan antara alumni Buntet Pesantren Cirebon, Keraton Yogyakarta, DPRD DIY, dan Dinas Kebudayaan DIY menjadi ruang untuk mengenali keterkaitan sejarah sekaligus memperkuat pemahaman terhadap warisan budaya kedua daerah. Kegiatan ini juga mengingatkan kembali pentingnya peran santri dalam menjaga nilai-nilai luhur, merawat tradisi, dan berkontribusi bagi kehidupan berbangsa.

Perpaduan nilai spiritual pesantren dan kearifan budaya keraton diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga warisan budaya bangsa. Dengan demikian, nilai-nilai sejarah dan tradisi tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga dapat terus hidup dan memberikan kontribusi bagi pembangunan peradaban serta kemajuan Indonesia. (syf/dta)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*