Oase Malioboro Padukan Filosofi Jawa dan Teknologi Modern untuk Generasi Muda

Jogja, dprd-diy.jogjaprov.go.id – Ketua DPRD DIY, Nuryadi, S.Pd., menghadiri soft opening Oase Malioboro, destinasi wisata baru yang memadukan filosofi Jawa dengan teknologi modern di kawasan Malioboro, Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026). Kehadiran destinasi ini diharapkan dapat memperkuat pelestarian budaya sekaligus menghadirkan ruang kreatif yang relevan bagi generasi muda.

Oase Malioboro dikembangkan oleh PT Anindya Mitra Indonesia (AMI) dengan memanfaatkan salah satu aset lahannya di kawasan Malioboro. Destinasi ini dirancang sebagai ruang yang tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, tetapi juga memberikan ruang bagi interaksi, pertunjukan kreatif, serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Direktur PT AMI, Ir. Priyatno Bambang Hernowo, S.T., M.M., MPU, IPU, ASEAN.Eng., menjelaskan bahwa pemilihan nama Oase Malioboro memiliki makna tersendiri. Berada di kawasan Malioboro yang merupakan bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta, destinasi ini diharapkan menjadi tempat bagi masyarakat dan wisatawan untuk memperoleh pengalaman yang menyentuh aspek fisik maupun spiritual.

Menurutnya, pengembangan Oase Malioboro juga telah melalui penilaian dan memperoleh persetujuan dari Dewan Kebudayaan DIY.

“Oase ini kami harapkan menjadi tempat pemenuhan kebutuhan fisik maupun spiritual, menambah destinasi yang ada di sini. Apa yang kami lakukan sudah melewati assessment dari Dewan Kebudayaan DIY,” ujarnya dalam sambutan peresmian.

Ketua DPRD DIY, Nuryadi, S.Pd., mengapresiasi hadirnya destinasi wisata yang berupaya memadukan nilai-nilai luhur budaya Jawa dengan perkembangan teknologi modern. Menurutnya, pengembangan pariwisata di Yogyakarta perlu tetap berpijak pada identitas budaya daerah sekaligus mengikuti perkembangan zaman agar dapat menjangkau berbagai kalangan, khususnya generasi muda.

“Yogyakarta memiliki kekayaan budaya dan filosofi Jawa yang menjadi bagian penting dari identitas daerah. Kami mengapresiasi hadirnya Oase Malioboro yang berupaya memadukan nilai-nilai luhur tersebut dengan teknologi modern. Harapannya, budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dipahami, dihayati, dan diterapkan oleh generasi muda dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nuryadi.

Ia menambahkan, pengembangan destinasi wisata berbasis budaya perlu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Keterlibatan seniman, budayawan, dan pelaku UMKM menjadi salah satu aspek penting agar pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan pelestarian kebudayaan serta penguatan ekonomi kreatif.

“Pariwisata dan pelestarian budaya perlu berjalan beriringan. Kami berharap Oase Malioboro dapat menjadi ruang kolaborasi bagi seniman, budayawan, pelaku UMKM, dan generasi muda untuk mengembangkan kreativitas tanpa meninggalkan jati diri Yogyakarta. Dengan begitu, manfaat kehadiran destinasi ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tambahnya.

Konsep Oase Malioboro bertumpu pada tiga pilar filosofi Jawa, yakni Sangkan Paraning Dumadi, yang mengajarkan pemahaman tentang asal-usul dan tujuan kehidupan; Hamemayu Hayuning Bawana, yang menekankan pentingnya menjaga keselarasan dan keharmonisan kehidupan; serta Manunggaling Kawula Gusti, yang mengandung makna hubungan manusia dengan Sang Pencipta serta keselarasan antara pemimpin dan rakyat.

Ketiga filosofi tersebut menjadi landasan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif. Melalui pendekatan kreatif dan pemanfaatan teknologi, nilai-nilai budaya Jawa diharapkan dapat disampaikan dengan cara yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh generasi muda.

Perwakilan pelaku industri kreatif DIY menyampaikan komitmen para seniman, budayawan, dan pelaku UMKM untuk turut memperkenalkan ketiga filosofi tersebut melalui berbagai bentuk kreativitas. Upaya ini diharapkan dapat menjadikan nilai-nilai luhur budaya Jawa lebih dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Kami berharap bisa melestarikan falsafah Jawa yang agung itu dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga destinasi ini menjadi tonggak perubahan,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, S.E., M.M., yang turut hadir menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan Oase Malioboro. Ia menekankan pentingnya penataan kawasan Malioboro, termasuk kesiapan sarana dan prasarana transportasi apabila kebijakan pembatasan kendaraan bermotor dari kawasan Tugu hingga Malioboro diterapkan.

Menurutnya, penataan kawasan perlu diimbangi dengan penyediaan alternatif transportasi yang memadai agar masyarakat dan wisatawan tetap dapat mengakses berbagai destinasi dengan mudah. Pengelolaan Oase Malioboro juga diharapkan mampu menghadirkan daya tarik yang berkelanjutan bagi pengunjung.

“Ini menjadi kerja keras manajemen untuk menata tempat ini dan bagaimana meramaikan tempat ini agar menjadi destinasi yang dinantikan oleh seluruh masyarakat dan wisatawan,” pungkasnya.

Kehadiran Oase Malioboro menambah pilihan destinasi wisata di kawasan Malioboro dengan pendekatan yang menggabungkan budaya, edukasi, teknologi, dan kreativitas. Melalui kolaborasi berbagai pihak, destinasi ini diharapkan dapat memperluas ruang pelestarian budaya sekaligus mendukung perkembangan pariwisata dan ekonomi kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta. (fn/cc)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*