DPRD DIY Dorong Penguatan Keluarga sebagai Fondasi Generasi Emas

Jogja, dprd-diy.jogjaprov.go.id – DPRD DIY mendorong penguatan keluarga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan Generasi Emas Indonesia. Penguatan tersebut perlu didukung pemahaman kesehatan mental, pengasuhan, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat melalui program dan kebijakan yang berkelanjutan.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan International Short Course on Psychology 2026 yang diselenggarakan Center for Public Mental Health, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) di Sekretariat DPRD DIY, Jumat (4/9/2026). Rombongan diterima Ketua Komisi D Dr. RB Dwi Wahyu B., S.Pd., M.Si., didampingi Sekretaris Komisi D Muhammad Syafi’i, S.Psi.

Direktur/Kepala CPMG Fakultas Psikologi UGM Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran mengenai pengasuhan dan pembangunan keluarga dari berbagai negara. 

“Generasi Emas bukan ditunggu, tapi diciptakan, dirancang dan diusahakan,” tegas Diana. Menurutnya, penguatan keluarga penting dilakukan mengingat pada 2025 tercatat 1.152 korban kekerasan di DIY, termasuk 432 anak dan 500 kasus dalam rumah tangga. Pendekatan promotif, preventif, dan kuratif perlu melibatkan sekolah, organisasi keagamaan, PKK, RT, Dasawisma, serta komunitas.

Kepala DP3AP2 DIY Erlina Hidayati Sumardi, S.IP., M.M., menilai penguatan keluarga perlu dibarengi pemahaman psikologi dan kesehatan mental dalam relasi keluarga serta pengasuhan anak. 

“Begitu pentingnya penguatan keluarga, utamanya dari sisi pemahaman ilmu psikologi. Kami sudah berdiskusi dengan pihak terkait, termasuk Fakultas Psikologi UGM, untuk nantinya kita punya Sekolah Keluarga, baik secara offline maupun online,” jelasnya.

Sekretaris Komisi D, Muhammad Syafi’i, S.Psi., menyatakan dukungan terhadap pengembangan pendidikan keluarga. 

“Kami sangat mendukung. Kita bicara tentang kesehatan jiwa dan faktor kunci kesehatan keluarga. Pendidikan tentang keluarga bisa dicoba dan dirancang,” ujarnya. 

Sementara itu, Ketua Komisi D RB Dwi Wahyu B menekankan pentingnya kolaborasi akademisi dan pembuat kebijakan agar data dan kajian dapat diterjemahkan menjadi program serta regulasi. 

“Sebenarnya butuh kolaborasi. Dari diskusi itu salah satunya ada data, dan data ini akan membutuhkan sebuah kebijakan. Kebijakan butuh regulasi,” ujarnya.

Dwi Wahyu juga mendorong pendidikan keluarga diberikan sejak sebelum seseorang membangun rumah tangga. 

“Saya ingin ada sekolah pra-keluarga, supaya ada pemahaman awal. Sebenarnya pendidikan keluarga mulai dari awal itu harus ditekankan,” jelasnya. 

Langkah tersebut diharapkan memperkuat keluarga sebagai lingkungan utama tumbuh kembang anak sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama menyiapkan Generasi Emas yang sehat, kompeten, dan berkualitas. (mln/lz)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*