Komisi B Kawal Penguatan Sentra Keris Imogiri Menuju Pasar Nasional dan Internasional

Bantul, dprd-diy.jogjaprov.go.id – Komisi B DPRD DIY mengawal penguatan Sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) Keris Imogiri di Kalurahan Girirejo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, agar mampu berkembang sebagai industri budaya bernilai ekonomi tinggi dan menembus pasar nasional hingga internasional.

Penguatan tersebut menjadi fokus dalam pemantauan dan dialog lapangan Komisi B DPRD DIY bersama para pengrajin, pemerintah kalurahan, dan perangkat daerah terkait, Jumat (11/9/2026). Forum tersebut membahas kebutuhan pengembangan industri keris, meliputi ketersediaan bahan baku, peralatan produksi, penguatan kelembagaan, promosi, pemasaran, serta pengembangan keris sebagai bagian dari wisata dan edukasi budaya.

Ketua Sanggar Giritimo, Sarjiman, menyampaikan bahwa tradisi keris di Padukuhan Banyu Sumurup telah berkembang sejak sekitar 1920-an. Saat ini, terdapat lima paguyuban yang masih aktif dengan 17 empu yang tercatat di wilayah tersebut.

Menurut Sarjiman, Banyu Sumurup memiliki potensi besar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam memperluas pengenalan keris kepada masyarakat. Keris perlu dipahami tidak hanya sebagai benda pusaka, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, seni, dan ekonomi.

“Keris sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya, tetapi ketika ditanyakan kepada masyarakat Yogyakarta tentang keris, masih ada yang tidak tahu bahkan takut dengan keris. Tantangannya adalah bagaimana keris bisa dikenal secara umum, terutama dari sisi budaya dan ekonominya,” ujar Sarjiman.

Ia menjelaskan, pengenalan keris kepada generasi muda telah dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, antara lain melalui seminar, lokakarya, dan sarasehan. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun pemahaman bahwa keris tidak semata-mata berkaitan dengan hal mistik.

Sarjiman juga menyatakan kesiapan pihaknya untuk berkolaborasi dengan pemerintah maupun swasta dalam kegiatan edukasi dan promosi.

“Kami siap apabila dari instansi, baik pemerintah maupun swasta, ingin bersama-sama menjalankan kegiatan tentang keris, seperti workshop, seminar, sarasehan maupun pameran,” katanya.

Lurah Girirejo, Dwi Yuli Purwanti, mengatakan wilayahnya memiliki banyak pengrajin keris dengan beragam jenis produk, mulai dari keris sebagai aksesori hingga keris yang dibuat sebagai pusaka. Potensi tersebut dinilai dapat dikembangkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Di Padukuhan Banyu Sumurup banyak sekali pengrajin keris, dari model aksesori sampai keris yang benar-benar keris. Kami ingin memperkenalkan keris di Girirejo ini lebih luas dari sekarang. Semoga keris di Girirejo bisa mendunia,” ujarnya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY, Dr. Danang Wahyu Broto, menilai Banyu Sumurup merupakan salah satu kekuatan industri keris di DIY. Menurutnya, keris memiliki nilai budaya, seni, dan ekonomi yang tinggi sehingga berpotensi menjadi produk unggulan daerah.

“Banyusumurup ini memang menjadi salah satu andalan DIY. Saya penggemar keris, di rumah saya ada sembilan keris. Saya senang sekaligus gregetan karena UMKM kita ini sebenarnya sudah ada yang mendunia. Kenapa DIY tidak menjadi yang paling terdepan?” ungkap Danang.

Danang mengatakan, keris dapat dikembangkan sebagai cendera mata bernilai tinggi yang membawa identitas Yogyakarta ke tingkat nasional maupun internasional. Namun, pengembangan tersebut harus tetap menjaga keaslian dan kualitas produk.

Menurutnya, nilai sebuah keris tidak hanya ditentukan oleh harga material, tetapi juga oleh filosofi, proses pembuatan, kualitas garapan, serta nilai seni yang terkandung di dalamnya.

“Harapan saya, apakah itu inovasi, filosofi, maupun produknya, benar-benar secara personal memiliki nilai yang tidak bisa diukur. Kalau kita bahasanya mahal, sebenarnya dari seni itu memang ada sesuatu yang berbeda,” katanya.

Danang menegaskan, pemantauan lapangan Komisi B tidak dimaksudkan sekadar melihat produk, tetapi untuk mengidentifikasi persoalan dan kebutuhan nyata para pengrajin sebagai dasar penyusunan dukungan pemerintah.

“Komisi B ini kalau melakukan kunjungan dalam daerah memang belanja masalah. Kalau pameran saya kira sudah cukup. Kita ingin tahu apa yang dibutuhkan, apakah mesin, apakah bahan baku, atau yang lainnya,” jelasnya.

Ia juga menyoroti kebutuhan bahan baku, khususnya kayu timoho yang menjadi salah satu material penting dalam pembuatan keris. Menurut Danang, kebutuhan tersebut dapat dikoordinasikan dengan perangkat daerah terkait agar keberlanjutan industri keris tetap terjaga.

“Kalau memang kita kesulitan bahan baku, kami punya mitra di bidang kehutanan. Lahannya memang tidak besar, tetapi kalau perlu menanam pohon timoho, nanti akan kami komunikasikan dengan dinas terkait,” tambah Danang.

Dari aspek pengembangan ekonomi kreatif, Dinas Pariwisata DIY menyampaikan kesiapan untuk membantu promosi keris. Dukungan tidak hanya diarahkan pada keris dalam bentuk aslinya, tetapi juga pada pengembangan produk kreatif dan media edukasi yang terinspirasi dari keris.

Perwakilan Dinas Pariwisata DIY, Rina, mengusulkan pengembangan keris menjadi produk dekorasi, karya visual, hingga cerita dalam bentuk animasi. Menurutnya, kolaborasi lintas subsektor ekonomi kreatif dapat memperluas pasar sekaligus memperkenalkan keris kepada kelompok masyarakat yang lebih beragam.

“Kami dari Dinas Pariwisata mungkin bisa mendukung dari aspek promosi. Tidak hanya keris dalam bentuk originalnya, tetapi kita melihat apakah keris bisa dibuat dari aspek fungsinya, misalnya dekorasi, atau dibuatkan sebuah cerita dalam bentuk animasi,” jelasnya.

Ia menambahkan, subsektor animasi, pengembangan gim, permainan papan, dan fotografi dapat dikolaborasikan dengan para pengrajin keris. Dengan demikian, keris tidak hanya menjadi produk yang dibeli atau dikoleksi, tetapi juga menghadirkan pengalaman edukatif bagi masyarakat.

“Supaya nanti perlahan-lahan tumbuh menjadi sebuah industri, sehingga bisa memproduksi dalam jumlah yang lebih besar dan distribusinya jelas. Dari Dinas Pariwisata DIY siap membantu,” katanya.

Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY menyampaikan bahwa pembinaan terhadap industri keris di wilayah tersebut sebelumnya telah dilakukan, termasuk melalui bantuan peralatan pada 2020. Dukungan anggaran juga perlu dikawal agar program pengembangan industri keris dapat kembali dilaksanakan.

Selain itu, peluang promosi dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pameran dan pemanfaatan Ndalem Keris di bawah Dinas Kebudayaan DIY sebagai salah satu sarana pengenalan keris sebagai warisan budaya takbenda.

Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bantul juga menekankan pentingnya penguatan kelembagaan kelompok pengrajin. Sejumlah kelompok pengrajin di wilayah tersebut dinilai perlu dikonsolidasikan agar pengembangan industri keris dapat dilakukan secara lebih terarah.

Anggota Komisi B DPRD DIY, Imam Priyono, menegaskan bahwa kehadiran Komisi B merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku industri keris. Menurutnya, dukungan dapat ditempuh melalui berbagai skema penganggaran, termasuk anggaran murni, anggaran perubahan, maupun Dana Keistimewaan.

“Komisi B datang ke sini sebetulnya atas nama pemerintah. Pemerintah ingin bersama dengan masyarakat, sehingga masyarakat yang bergerak di bidang keris bisa lebih sejahtera. Caranya tentu dengan anggaran,” ujar Imam.

Imam mengajak para pengrajin untuk aktif menyusun dan menyampaikan proposal kebutuhan kepada pemerintah. Ia juga mengusulkan agar pengembangan keris diarahkan tidak hanya sebagai sentra produksi, tetapi sebagai pusat edukasi dan wisata budaya.

Para pengrajin, lanjutnya, dapat dilibatkan dalam pengembangan pramuwisata agar masyarakat dan wisatawan yang datang ke Girirejo memperoleh penjelasan mengenai sejarah, filosofi, proses pembuatan, serta nilai budaya keris.

“Jangan hanya datang ke sini untuk melihat atau membeli keris. Bagaimana orang bisa belajar cara membuat keris, memahami sejarah keris, dan mengetahui hal-hal yang baik tentang keris. Ini bisa menjadi pusat studi untuk membuat keris,” jelasnya.

Menurut Imam, penguatan narasi budaya penting agar generasi muda tidak hanya mengenal keris dari sisi mistik, tetapi juga memahami nilai sejarah, seni, budaya, dan ekonominya. Ia berharap pengembangan keris dapat disinergikan dengan potensi budaya lain di Bantul, termasuk batik.

“Ketika keris benar-benar menjadi budaya yang diakui dunia, semua cerita tentang keris akan muncul. Apakah itu keris Solo, keris Jogja, keris Majapahitan, maupun keris Madura. Arahnya bagaimana kita mensinkronkan dengan kota budaya, sehingga keris Jogja memiliki cerita dan identitasnya sendiri,” pungkasnya.

Pemantauan dan dialog lapangan tersebut ditutup dengan ramah tamah antara Komisi B DPRD DIY, perangkat daerah, pemerintah kalurahan, dan para pengrajin keris untuk membahas tindak lanjut pengembangan Sentra IKM Keris Imogiri.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*