Jogja, dprd-diy.jogjaprov.go.id – Suasana kawasan Malioboro pada Jumat (31/7/2026) malam dipenuhi ribuan pesepeda yang mengikuti Jogja Last Friday Ride (JLFR). Kegiatan yang rutin digelar setiap akhir bulan tersebut berlangsung tertib dengan dukungan pengamanan dan koordinasi berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan, hingga jajaran kepolisian.
Di tengah antusiasme masyarakat, Anggota DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom., M.M., turut mengayuh sepeda bersama peserta sejak awal kegiatan. Sepanjang perjalanan, ia menyapa masyarakat dan sejumlah komunitas sepeda yang memadati ruas-ruas jalan Kota Yogyakarta hingga kawasan Malioboro.
Saat berada di Malioboro, Dr. Raden Stevanus juga bertemu langsung dengan Wali Kota Yogyakarta beserta jajaran Pemerintah Kota, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, serta personel Satlantas Polresta Yogyakarta yang sedang melakukan pemantauan pelaksanaan JLFR.
Menurutnya, kehadiran seluruh unsur tersebut menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga agar kegiatan masyarakat dapat berlangsung aman, tertib, sekaligus tetap memberikan kenyamanan bagi pengguna ruang publik.
“Kami melihat ada komunikasi dan koordinasi yang baik di lapangan. Ini menjadi modal penting agar kegiatan seperti JLFR dapat terus berjalan dengan aman dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dr. Raden Stevanus yang akrab disapa MasBro Steve
*Dari Polemik Menuju Kolaborasi*
Pelaksanaan JLFR edisi Juli 2026 menjadi perhatian karena berlangsung setelah munculnya polemik mengenai pembatasan rute pesepeda di kawasan Malioboro beberapa waktu lalu.
Saat isu tersebut mencuat, Dr. Raden Stevanus termasuk salah satu anggota DPRD DIY yang menyampaikan pandangannya agar penyelesaian persoalan dilakukan melalui dialog dan kolaborasi, bukan dengan pendekatan yang menimbulkan kesan saling berhadapan.
Menurutnya, Malioboro merupakan ruang publik yang harus mampu mengakomodasi berbagai kepentingan, mulai dari aktivitas wisata, pelaku usaha, pejalan kaki, hingga komunitas pesepeda.
“Sepeda sudah menjadi bagian dari identitas Yogyakarta. Karena itu, pengelolaannya perlu mengedepankan komunikasi sehingga seluruh kepentingan dapat berjalan beriringan,” ujar Dr. Raden Stevanus.
Ia menilai pelaksanaan JLFR kali ini menjadi contoh bahwa koordinasi lintas instansi mampu menghasilkan solusi yang lebih baik sekaligus menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat.
*JLFR Jadi Ruang Kebersamaan Warga*
Bagi Dr. Raden Stevanus, JLFR bukan sekadar agenda bersepeda, tetapi telah berkembang menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.
Ia mengaku melihat banyak keluarga, komunitas, hingga rekan kerja memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menikmati suasana Kota Yogyakarta bersama-sama.
“Saya mendukung Jogja Last Friday Ride terus dapat dilaksanakan karena ini merupakan kegiatan yang sangat positif bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, JLFR layak dikelola secara berkelanjutan sebagai salah satu agenda rutin Kota Yogyakarta.
“Kegiatan ini sebaiknya terus dikembangkan sebagai agenda bulanan dengan pengelolaan yang baik. Semakin tertata pelaksanaannya, semakin besar pula manfaat yang dirasakan masyarakat maupun sektor pariwisata,” ungkap Dr. Raden Stevanus.
Ia juga menilai nilai utama JLFR bukan hanya pada aktivitas bersepeda, tetapi pada kebersamaan yang tercipta.
“Kalau saya lihat, JLFR menjadi ajang yang membahagiakan bagi warga. Mereka bisa bersepeda bersama teman, rekan kerja, komunitas, maupun keluarga. Bahagia yang sederhana, tetapi memiliki makna yang besar dalam mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat,” ujar Dr. Raden Stevanus.
*Potensi Sport Tourism Kota Yogyakarta*
Lebih jauh, Dr. Raden Stevanus menilai kegiatan seperti JLFR dapat menjadi salah satu kekuatan baru dalam pengembangan pariwisata berbasis olahraga atau sport tourism.
Menurutnya, Yogyakarta memiliki sejarah panjang sebagai kota yang ramah terhadap pesepeda. Identitas tersebut perlu terus dijaga melalui kebijakan yang mendukung mobilitas ramah lingkungan sekaligus menghadirkan ruang publik yang inklusif.
“Jogja dikenal sebagai Kota Sepeda dan identitas itu harus terus dilestarikan. Saya melihat ada potensi besar untuk mengembangkan sport tourism berbasis kegiatan bersepeda. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, UMKM, hingga memperkuat citra Yogyakarta,” jelas Dr. Raden Stevanus.
Ia berharap JLFR ke depan mampu berkembang menjadi agenda yang semakin diminati masyarakat sekaligus menjadi daya tarik wisata yang khas bagi Kota Yogyakarta.
*Apresiasi untuk Kolaborasi Semua Pihak*
Pada akhir kegiatan, Dr. Raden Stevanus menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Yogyakarta beserta seluruh pihak yang terlibat dalam pengamanan dan pengelolaan JLFR.
Ia secara khusus mengucapkan terima kasih kepada Wali Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan DIY, Satlantas Polresta Yogyakarta, komunitas pesepeda, serta seluruh pemangku kepentingan yang telah membangun koordinasi selama kegiatan berlangsung.
“Terima kasih kepada Pemerintah Kota Yogyakarta, khususnya Bapak Wali Kota, atas kolaborasi yang terjalin dengan sangat baik. Sinergi seluruh pihak menjadi kunci sehingga JLFR dapat berlangsung aman, tertib, dan tetap memberikan kenyamanan bagi masyarakat.”
Menurutnya, semangat kolaborasi tersebut menjadi contoh bahwa ruang publik dapat dikelola secara bersama dengan mengutamakan keselamatan, kenyamanan, dan kepentingan masyarakat.
“Harapannya, JLFR tidak hanya menjadi agenda rutin komunitas, tetapi juga terus tumbuh sebagai simbol budaya bersepeda Yogyakarta sekaligus memperkuat posisi Jogja sebagai kota yang ramah pesepeda dan destinasi sport tourism di Indonesia,” pungkasnya.

Leave a Reply